Libur sekolah adalah momen yang paling tepat untuk menghilangkan jenuh akibat kepadatan kota-kota besar, tak terkecuali Kota Semarang, yang merupakan Ibukota Jawa Tengah. Di hari kerja, kesibukan yang luar biasa nggak bisa dihindari, meskipun kami adalah pelajar, namun rutinitas pekerja kantoran sudah menjadi hal biasa bagi kami, pergi pagi pulang malam. Melelahkan memang. Itulah alasan kenapa kami bahagia ketika liburan telah tiba, karena itu satu-satunya penyelamat bagi komplotan OWL Adventure yang kurang piknik saat hari sekolah haha. Seperti biasa, tiap orang dari kami mencari destinasi yang tepat, dan setelah perundingan yang cukup lama, kali ini Dataran Tinggi yang kami incar. Hawa sejuk nan tenang lah yang kami inginkan.
Kami berencana untuk menjelajahi Kota Wonosobo. Yap, kota yang terkenal dengan hawanya yang sejuk dan mempunyai banyak dataran tinggi. Mendaki gunung adalah hal yang terpikirkan oleh kami, tepatnya mendaki Gunung Prau yang mempunyai ketinggian 2565 meter di atas permukaan laut. Namun karena suatu hal, jalur pendakian Gunung Prau ditutup saat itu, mungkin karena musim hujan, jadi tracknya licin dan membahayakan. Akhirnya kami beralih ke Bumi Perkemahan Sikunir, Dieng.
Kali ini OWL Adventure full personil. Ada saya, Dino, Rizel, dan Zuhri. Oh iya, ada satu lagi teman kita yang ikut serta dalam perjalanan ini, siapa lagi kalau bukan Bos Deri, nah buat yang belum tau siapa Bos Deri ini, bisa dilihat di artikel saat kami ke Umbul Ponggok, Boyolali.
Tiga motor disiapkan, yaitu Karisma Biru, Supra Perjuangan, dan Beat Putih. Saya bersama Bos Deri, Dino bersama Rizel, dan Zuhri sendirian, membawa tenda yang sudah kami sewa untuk 2 hari. Sore hari kami berangkat, tepatnya setelah Sholat Ashar. Rute yang kami lewati adalah melalui Kota Temanggung, dimana kondisi jalanannya tidak seramai Semarang. Sesekali kami beristirahat, membeli persediaan makanan & air minum, biar nggak kelaparan disana. Saat baterai handphone habis & tak ada satupun yang membawa Power Bank, Minimarket pun jadi tempat charge darurat, seperti yang dilakukan Deri ini haha.
Tepat sebelum Maghrib kami sudah sampai di Wonosobo, lumayan melelahkan, tapi kami enggan untuk beristirahat lagi, karena menurut OWL Adventure, lebih baik sampai di tempat tujuan dalam keadaan letih daripada banyak istirahat di perjalanan namun tak kunjung sampai.
Hawa dingin mulai terasa, keringat karena gerah selama perjalanan berubah menjadi rasa kedinginan yang lumayan parah. Apalagi saat memasuki Kawasan Dieng, dinginnya bukan main, dan karena banyak yag tidak tahan dengan hawanya, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak, menyalakan api di kaleng kecil berisi spirtus yang sudah kami siapkan. Rasanya anget broo, beneran, hampir aja tangan serasa mati rasa, ini bukannya lebay, tapi memang keadaannya seperti itu, coba aja sendiri kalau nggak percaya haha. Setelah rasa kedinginan terobati, kami melanjutkan perjalanan. Nggak terasa jam udah menunjukkan pukul 9 malam, lumayan lama memang, karena saat itu gelap dan kondisi jalan ada yang sedikit rusak.
Berjam-jam naik motor akhirnya kami sampai di Desa Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa, dan seperti tempat wisata pada umumnya, kami membayar tiket masuk. Yang membuat kami agak kesal adalah biaya masuknya berlapis-lapis, hampir tiap kami melewati Gapura yang ada penjaga di Posnya kami diharuskan membayar. Tiga Gapura sudah kami lewati, harganya juga berbeda-beda, ada yang 5 ribu per orang, ada yang 7ribu, ada juga yang 10 ribu per motor. Karena saat itu kami lelah dan tidak mau berdebat dengan mereka, akhirnya kami dengan sukarela membayarnya, tanpa memperdulikan itu Pos Resmi atau bukan. "Pokoknya sampai ke tempatnya dulu".
Alhamdulillah, kami sampai ke tujuan pukul 9.30 malam, segera kami dirikan tenda dan beristirahat melepas penat. Ditemani kopi hangat, kami berbincang-bincang. Talk about life, talk about love, talk about future. Sederhana, namun penuh canda tawa. Tanpa disadari, kami terlelap dalam tenda kecil di tepi Danau Cebong Bumi Perkemahan Sikunir.
Bersamaan dengan bunyi alarm yang telah diatur semalam, pukul 4 pagi semua yang di dalam tenda bangun tidur, kecuali saya yang masih tertidur pulas haha. Rencannya kami akan mendaki Bukit Sikunir agar bisa menyaksikan Golden Sunrise, karena itulah tujuan utama semua wisatawan disana. Namun apa daya, rasa lelah yang belum sepenuhnya hilang memaksa kami untuk terlelap kembali. Akhirnya kami semua baru benar-benar sadar saat pukul 5 pagi. Semuanya ragu mau tracking apa nggak, soalnya waktunya udah mepet banget sama sunrise. Tapi dengan sedikit semangat, kami menunaikan sholat lanjut tracking. Kata warga setempat waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke spot sunrise itu 15 menit kalau lari, dan 30 menit kalau santai. Kami pilih opsi lari, dengan harapan nggak ketinggalan momen berharga itu.
Ternyata spotnya nggak terlalu jauh, buktinya kami berhasil sampai dengan waktu 15 menit saja. Sudah banyak wisatawan yang berada disana, mereka menunggu saat sang fajar mengintip pagi. Dan perlahan matahari mulai terbit. Subhanallah, indahnya bukan main, Golden Sunrise at The Highest Village in Java. Bener-bener takjub saat melihat sunrise yang beda dari tempat lainnya. Keren pokoknya. Nggak lupa kami mengambil beberapa foto, agar bisa selalu dikenang hehe, sayangnya saat itu nggak ada yang membawa Kamera SLR, kami cuma membawa handphone pribadi, padahal kalau pakai SLR bakalan lebih bagus fotonya, tapi tak apalah, tetap harus bersyukur. Ini beberapa hasil jepretannya.
Puas dengan Golden Sunrise kami kembali ke tenda, pemandangan di Danau Cebong juga nggak kalah bagusnya, kami berfoto sebanyak-banyaknya, ada yang udah nyiapin kertas juga untuk sekedar menuliskan ucapan selamat pagi, termasuk saya haha, tapi kertasnya nggak kami buang sembarangan, percuma dong ngetrip kalau nyampah, ya nggak?.
Setelah sesi pemotretan berakhir kami bersiap-siap untuk kembali ke Semarang, melipat tenda, membuang sampah, dan mengemas barang pribadi. Kebetulan saat perjalanan pulang kami dekat dengan kawasan wisata lain, yaitu Kawah Sikidang, rugi juga kalau nggak mampir, udah sampai Wonosobo juga kan, kami memutuskan untuk mampir dan mengambil beberapa foto.
Tepat setelah Dzuhur kami meninggalkan Kawah Sikidang dan melanjutkan perjalanan ke Semarang. Pulang ke rumah, kembali ke rutinitas awal, tapi satu yang kami kenang, Golden Sunrise at The Highest Village in Java nggak bakal terlupakan.
Itulah petualangan kami di Kota Wonosobo. Semoga kalian bisa menyusul kami menikmati indahnya desain Tuhan disana. See you at our next trip. Thanks.
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)















